Showing posts with label history education. Show all posts
Showing posts with label history education. Show all posts

Sunday, November 3, 2024

Perang Makassar: Perlawanan Terhadap Laksamana Speelman

 Pada mulanya, disebutkan bahwa Belanda datang ke kota Makassar untuk berdagang dengan persetujuan dari Raja Gowa ke XIV I Mangarrangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin, dengan hanya satu syarat, yaitu Belanda datang hanya untuk berdagang. Namun ternyata Belanda berambisi untuk menguasai perdagangan di Makassar. bahkan setelah Belanda mengusir bangsa Portugis dan Spanyol dari Maluku, Belanda pun menghalau perahu-perahu dagang Makassar dekat perairan Ambon, agar dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah. Perlawanan pun dilakukan oleh rakyat Makassar sedari tahun 1660-1669.

Dalam perang Makassar yang berlangsung pada tahun 1666-1669, Sultan Hassanudin dan Rakyat Makassar melakukan perlawanan terhadap VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman.

Menurut jurnal UIN Alauddin Makassar yang berjudul 'Kondisi Sosial-Politik pasca Perjanjian Bongaya 1667', perang tersebut terjadi akibat ambisi VOC yang ingin menguasai jalur perdagangan rempah rempah di wilayah timur Nusantara.


source: wikipedia
Lukisan tersebut merupakan gambaran peperangan yang terjadi antara VOC Belanda dan pasukan  Sultan Hassanudin.

Melihat penderitaan rakyatnya akibat peperangan yang terjadi, Sultan Hassanudin selaku Raja Gowa memutuskan untuk berdamai dengan pihak Belanda/VOC, beliau membuat keputusan tersebut demi rakyatnya yang begitu menderita dengan peperangan tersebut.

Pada tanggal 18 November 1667, perjanjian perdamaian antara Kerajaan Gowa dengan VOC Belanda ditandatangani disebuah desa, bagian selatan kota Makassar. Kini dikenal dengan nama Perjanjian Bongaya. namun, setelah penandatanganan tersebut, terdapat kelompok yang tidak menyetujui dan mengakui akan Perjanjian Bongaya. mereka memilih untuk terus melawan VOC Belanda.

Perang antara VOC Belanda dan Kerajaan Gowa pun akhirnya berlanjut kembali, perlawanan tersebut dipelopori oleh Karaeng Karunrung yang membenci VOC.

Pada tanggal 12 April 1668, perang Makassar pun pecah kembali, bahkan lebih besar daripada peperangan sebelum Perjanjian Bongaya. Speelman pun meminta bantuan pimpinan VOC untuk mengirimkan bala bantuan untuk melawan Sultan Hassanudin dan rakyatnya.

Pada bulan April 1669, pasukan Belanda melakukan serangan secara teratur dan berulang-ulang terhadap warga Makassar. Penyerangan VOC Belanda saat itu mendekati arah Benteng Somba Opu yang mana membuat peperangan semakin sengit dan intens.

Pada tanggal 24 Juni 1669, Belanda berhasil menaklukkan benteng utama Kerajaan Gowa, Benteng Somba Opu secara terhormat takluk setelah perjuangan perlawanan Kerajaan Gowa dengan kepemimpinan Sultan Hassanudin.

Sultan Hassanudin pun meninggal pada 12 Juni 1670, akibat penyakit yang beliau derita, penyakit plasenta, pada usia 39 tahun.

source: detiksulsel.com

Legenda Prabu Brawijaya V & Gunung Lawu

  

Prabu Brawijaya V adalah raja terakhir dari Kerajaan Majapahit, yang memerintah dari tahun 1468 hingga 1478. Ia adalah putra dari Prabu Bratanjung, ia memiliki beberapa anak, di antaranya Raden Patah, Batara Katong, Arya Damar, dan Bondan Kejawen. Ia pun menyaksikan perubahan besar Nusantara, yaitu masuknya agama Islam yang dibawa oleh para ulama dan wali.


source: asaldansejarah45.com

Di tengah konflik yang melanda kerajaannya, yaitu masa menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk meninggalkan tahta dan pergi ke Gunung Lawu untuk mencari ketenangan spiritual/rohani dan moksa, konsep dalam agama hindu & budhha yang berarti menghilang atau meninggal secara spiritual. 

Gunung Lawu adalah salah satu gunung suci yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Puncak-puncak ini diyakini tempat sakral di tanah Jawa, dan sering dikaitkan dengan legenda Prabu Brawijaya V.


source: kompas

Menurut cerita yang beredar dimasyarakat, Prabu Brawijaya V pergi ke Gunung Lawu setelah mendengar kabar bahwa Raden Patah, putranya yang seorang Muslim, sedang memimpin penyerbuan ke Majapahit, dan mendirikan kerajaan baru di Demak. Prabu Brawijaya V pun ingin meminta pertolongan dari kerajaan Bali untuk menyerang Raden Patah.

Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang berusaha untuk mengislamkannya juga. Sunan Kalijaga mengajaknya untuk bertapa di Gunung Lawu, dan meyakinkan beliau untuk tidak pergi ke Bali.

Prabu Brawijaya V pun melanjutkan pertapaannya di puncak Hargo Dalem, ia melakukan proses moksa disana, melepaskan diri dari ikatan dunia. Moksa Prabu Brawijaya V di Hargo Dalem merupakan akhir dari kejayaan kerajaan Majapahit dan menjadi awal perkembangan Islam di Nusantara.

Hingga kini, Hargo Dalem dianggap sebagai tempat bersemayamnya roh Prabu Brawijaya V. Dan hingga pada saat ini, tidak ada yang tau dimana menghilangnya jasad atau makam dari Prabu Brawijaya V, hal tersebut tidak pernah terpecahkan. 

Prabu Brawijaya V merupakan simbol dari peralihan zaman, dari Hindu-Buddha ke Islam, dari Majapahit ke Mataram.

sc; intisari.grid.id

Colorism in Indonesia

 Colorisme merupakan salah satu bentuk diskriminasi terhadap warna kulit, yang kerap terjadi di seluruh dunia. berbeda dengan rasisme, color...